Home » Guru » Karya Guru »

Seperti biasa saya selalu melihat mereka. Ya, mereka siswa-siswaku yang selalu menuju tempat wudu di kala sebagian besar siswa mengantri di kantin dan koperasi.  Mereka yang terlihat asyik membaca lembaran suci dan sesekali terlihat menghafalnya setelah menyelesaikan rokaat duhanya tanpa menghiraukan kebanyakan teman-temannya bersorak di lapangan saat jam istirahat. Bahkan mereka seringkali rela meniggalkan jam makan siangnya, seakan mereka memiliki janji dengan Al-Qurannya. Mereka yang seringkali kulihat bibirnya senantiasa bergerak tanpa henti melantunkan ayat demi ayat yang dihafalnya, baik saat berjalan, duduk, maupun sekadar mengantri  mengambil sandal seusai salat. Terharu melihatnya sambil selalu terucap doa untuk mereka agar senantiasa istikamah bersama Al-Quran. Ya, ternyata mereka masih ada. Generasi Qurani, penerus perjuangan nabi dan para sahabatnya.

Seorang ibu yang panik kehilangan dompet, segera berbalik arah menyusuri jalan yang telah dilaluinya sambil mencari-cari benda yang sangat dibutuhkannya. Hingga akhirnya ada seorang wanita muda pemilik toko kecil di pinggir jalan tersebut mengamatinya dan menanyainya apakah ia kehilangan dompet dan mencarinya. Setelah sang ibu menyampaikan ciri-ciri dompetnya, si wanita tersebut memberikan dompet tersebut yang ternyata benar milik si ibu sambil mengatakan, “Ada seorang pelajar SMP yang tadi menemukan dompet ini dan menitipkannya padaku untuk disampaikan kepada seseorang yang mungkin akan kembali dan mencari dompet ini.” MasyaAllah, ternyata mereka masih ada. Ya, mereka generasi shiddiqy, yang masih istikamah dalam kejujurannya di kala dusta sudah membudaya.

Bel pulang sekolah berbunyi. Sekelompok siswi bergurau dengan semburat bahagia di wajah mereka seakan tak sabar segera pulang ke rumah setelah seharian melakukan aktivitas belajar di sekolah. Tatkala lewat seorang guru di depannya, refleks mereka langsung mendekat sembari tersenyum, membungkuk, dan berucap salam serta mencium punggung tangan ibu guru mereka, ta’dzim. Ada lagi dua orang siswa yang asyik mengobrol, namun tatkala melihat bapak guru mereka membawa barang-barang ke mobilnya, spontan dua siswa tadi dengan santun menawarkan bantuan kepada bapak guru mereka tulus. MasyaAllah, merekalah yang meletakkan adab di atas ilmu. Ya, mereka masih ada. Mereka yang kulihat selalu santun dalam ucap dan sikapnya. Mereka yang senantiasa ta’dzim dan tawadhu’ kepada orang yang lebih tua, terlebih kepada gurunya yang telah menransfer ilmu pengetahuan kepadanya. Sungguh keberkahan ilmulah yang menjadi motivasinya.

Layar LCD dinyalakan, saya mencoba memutar sebuah film dokumenter tentang Aceh dengan bencana Tsunami yang melanda beberapa tahun lalu. Beberapa tayangan kejadian meluapnya air laut yang dahsyat mampu membuat kelas tersebut senyap, sunyi, dan mencekam. Yah, mereka begitu menghayati seakan ikut mengalami kejadian tersebut. Seusai tayangan, beberapa siswa terlihat mengusap air matanya. Bahkan di antara mereka ada yang bertanya “Itu kan kejadian yang sudah lama, Bu. Bagaimana kondisi mereka sekarang ya?” MasyaAllah, melihatnya saya ikut merasa terharu. Ternyata siswa-siswaku yang terlihat cuek masih peka hatinya. Respon empatinyapun masih berfungsi baik. Ternyata mereka masih ada.  Ya, mereka generasi yang berempati, di saat beberapa kelas lainnya mungkin hanya menertawakan dan menganggap tayangan film itu hanya sebuah lelucon. Astaghfirullahal adzim

Usai pembelajaran, seorang siswi mendekat ke meja saya, menanyakan sesuatu dengan ragu. Bu, gimana hukumnya pemain basket muslimah yang memasukkan sebagian kerudungnya ke dalam kaos padahal di hari-hari biasa ia memakai jilbab lebar dengan sempurna?”   Setelah kujawab dan kujelaskan bagaimana hakikat menutup aurat bagi muslimah dan bagaimana seharusnya seorang muslimah tetap berprestasi tanpa menghambat hak-haknya berbusana secara syar i dan islami, ia terlihat puas dan mengangguk. Dan di lubuk hati yang terdalam saya bersyukur, ternyata masih ada siswiku yang peduli dengan pakaian. Pakaian syari yang semakin hari semakin tidak bisa ditebak. Apakah benar-benar sesuai tuntunan syari ataukah mungkin hanya sekedar trendi. Alhamdulillah mereka masih ada. Ya, mereka yang peduli dengan hijab diri. Semoga Allah SWT senantiasa menjaganya agar selalu istikamah di jalan-Nya.

Seorang siswa mencoba bertanya kepada saya tentang perasaan hatinya terhadap seorang teman lawan jenis. Bagaimana ia bingung menyimpan perasaannya dan menjadi lebih bingung lagi saat sang cewek mengetahui perasaannya bukan dari dirinya. Namun dari teman laki-lakinya yang ternyata tidak amanah kepadanya. Ia bertanya bagaimana ia harus bersikap agar tidak terjerumus dosa. Akhirnya saya jelaskan padanya masalah hati dan perasaan dan bagaimana mengelolanya tanpa melanggar aturan-Nya. MasyaAllah, bangga saya padanya. Di saat banyak pelajar di usia belia sudah mulai berani mendekati zina (pacaranred), di saat teman-temannya mudah mengobral kata manis kepada teman lawan jenisnya padahal belum saatnya, ia lebih memilih mengonsultasikan kepada guru agamanya berharap pencerahan agar tetap terjaga diri dan hatinya di hadapan Allah SWT. Ya, ternyata mereka masih ada. Barokallah fiik Nak, semoga Allah SWT selalu menjagamu jua.

Ya, mereka generasi Qurani, generasi yang jujur, generasi yang berempati, generasi yang tawadu dan rendah hati, generasi yang menjaga diri, generasi yang meletakkan adab di atas ilmu. Mereka yang mampu membuat haru namun jumlah mereka sudah semakin terbatas, generasi limited edition, seperti judul buku yang ditulis oleh mbak Silmy Kaffah Rohayna Jangan Jadi Manusia Gampangan, Jadilah Manusia Limited Edition. Semoga saja generasi limited tersebut semakin banyak dan sikapnya semakin membudaya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*