Guru MTsN 1 Kota Malang (Matsanewa), Yoga Prasetya, S.Pd., M.Pd., kembali menunjukkan dedikasinya di bidang pendidikan dengan berpartisipasi aktif dalam seminar internasional bertajuk “Universal Islamic Values for a Peaceful and Inclusive Pesantren Toward Global Civilization”. Kegiatan ini diselenggarakan secara hibrida (daring dan luring di Aula Pesantren Nurul Jadid) pada hari Senin, 1 Desember 2025, diikuti oleh berbagai praktisi pendidikan serta pengamat sosial dari berbagai negara.
Seminar ini menjadi wadah pertukaran gagasan dengan menghadirkan sederet pembicara utama yang kompeten di bidangnya. Dari kancah internasional, hadir delegasi The Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP) 2025, yakni Iman Balla dan Qudratullah Wahidi, serta Mohammad Holil Smith selaku Director of Supply Chain Governance dari Amerika Serikat. Kolaborasi lintas negara ini memberikan perspektif global mengenai penerapan nilai-nilai Islam yang universal dalam institusi pendidikan.
Tidak hanya pembicara internasional, acara ini juga diperkuat oleh tokoh-tokoh penting nasional. Menteri Agama, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA hadir secara daring memberikan sambutan. Turut hadir secara luring, yakni Dr. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd., selaku Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur, didampingi oleh akademisi Universitas Airlangga, Bani Bacan, S.Psi., M.Si., dan Ahmad Husain, S.H., M.Ag., Dosen Ma’had Aly Nurul Jadid Probolinggo. Kehadiran para pakar ini memperkaya diskusi mengenai integrasi nilai keislaman dengan tantangan pendidikan modern.
Sebagai praktisi pendidikan di Matsanewa, Yoga Prasetya memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerap ilmu langsung dari tokoh nasional maupun delegasi AIMEP. Fokus utama yang menjadi perhatiannya adalah penciptaan lingkungan pendidikan yang ramah, sehat, dan nirkekerasan. “Wawasan global sangat diperlukan untuk merumuskan strategi pencegahan masalah-masalah krusial di lingkungan sekolah maupun pesantren, agar relevan dengan perkembangan zaman,” ucap guru lulusan Pascasarjana Universitas Negeri Malang.
Dalam seminar tersebut, ditekankan bahwa isu perundungan (bullying), kekerasan, dan pelecehan seksual bukanlah sekadar urusan internal satu institusi, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Seminar ini diakhiri dengan ajakan kolektif untuk bersama-sama membangun pesantren dan lembaga pendidikan yang aman dan inklusif. Hal ini semata-mata demi keberpihakan pada kesehatan mental santri dan siswa, sebagai pondasi utama menuju peradaban global yang damai. (Humas Matsanewa)
