Malang, 22 Mei 2026– Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I., memberikan arahan mendalam mengenai transformasi pengelolaan manajemen madrasah yang visioner, humanis, dan berbasis spiritualitas. Dalam pandangannya, sebuah madrasah yang maju tidak boleh tumbuh sendirian, melainkan harus memiliki tanggung jawab moral untuk menularkan ilmu, praktik baik, dan dinamika perkembangannya kepada madrasah-madrasah lain agar bisa maju bersama. Komitmen memajukan ekosistem pendidikan Islam secara kolektif ini bahkan diibaratkan seperti menyusun sebuah buku utuh yang terus mencatat dinamika perkembangan kualitas madrasah secara berkelanjutan.

Kakanwil menegaskan bahwa kemajuan sebuah institusi pendidikan sangat ditentukan oleh ketajaman daya nalar dan daya kritis para pendidiknya untuk mengendalikan sekaligus mengukur di mana posisi madrasah saat ini. Daya kritis ini bukan digunakan untuk menjatuhkan pihak lain, melainkan sebagai instrumen dialog dengan diri sendiri agar tidak pernah merasa cepat puas atau merasa paling pintar. Melalui kepekaan dan daya kritis yang tajam, madrasah dapat terus merenung demi melahirkan solusi atas berbagai masalah, sekaligus menjawab harapan besar dari orang tua murid yang telah menitipkan masa depan anak-anak mereka.

Dalam mengukur sebuah madrasah yang berkualitas, Dr. Akhmad Sruji Bahtiar menjabarkan tiga indikator utama yang harus dipahami oleh seluruh guru, yaitu kemampuan akademik siswa yang mumpuni, raihan prestasi di berbagai ajang kompetisi, serta ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung. Kompetisi itu sendiri dinilai sangat penting karena menjadi pemantik utama bagi guru dan murid untuk terus belajar sekaligus menempa mentalitas juara. Oleh karena itu, para guru dituntut untuk menerapkan metode mengajar yang aktif, inovatif, dan membuktikan bahwa guru madrasah tidak hanya unggul secara pedagogis tetapi juga memiliki kompetensi religius yang kuat.

Lebih lanjut, Kakanwil menguraikan pentingnya keseimbangan antara kompetensi intelektual dan kematangan emosional dalam dunia pendidikan. Kompetensi intelektual diwujudkan melalui kemampuan menyelesaikan masalah secara taktis, sementara empati intelektual menuntut madrasah untuk selalu peka terhadap perkembangan zaman, capaian madrasah lain di luar sana, serta mampu menyelaraskan antara keinginan, kebutuhan, dan tantangan nyata menjadi sebuah perencanaan konsep yang matang. Di sisi lain, para pendidik juga harus memiliki empati emosional, sebuah konsep berbalik yang menempatkan diri pada posisi orang lain, sehingga melahirkan sosok guru yang bertanggung jawab penuh dan memiliki rasa takut yang besar jika sampai muridnya gagal dalam belajar maupun dalam kehidupan.

Pada puncaknya, transformasi pengelolaan madrasah ini harus bermuara pada pendekatan spiritualitas yang mendalam dan penerapan kurikulum cinta guna meningkatkan nilai-nilai humanisme di lingkungan sekolah. Menjadi teladan yang hadir secara nyata adalah kunci utama, di mana seorang guru harus selesai dengan dirinya sendiri karena selalu mengingat Allah SWT. Ketika seseorang telah selesai dengan egonya, maka segala rasa benci kepada orang lain dan perasaan merasa lebih hebat akan hilang dan menghadirkan keikhlasan total dalam mengajar. Melalui pendekatan cinta inilah, madrasah di Jawa Timur diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga anggun dalam akhlak dan kepribadian. (Humas Matsanewa)