MALANG – Dalam upaya nyata mendukung perlindungan anak serta membentengi generasi muda dari risiko sosial, Komite dan perwakilan Bimbingan Konseling (BK) MTsN 1 Kota Malang menghadiri kegiatan Advokasi Perkawinan Anak pada Kamis (15/10/2026). Acara yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kota Malang ini bertempat di Aula PSBB MAN 2 Kota Malang.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB tersebut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan (stakeholders), mulai dari jajaran dinas terkait, tokoh masyarakat, perwakilan komite sekolah, hingga para guru BK dari berbagai satuan pendidikan di Kota Malang.

Sinergi Lintas Sektor Demi Masa Depan Anak

Acara advokasi ini dibuka secara resmi oleh perwakilan dari Dinsos P3AP2KB Kota Malang. Dalam sambutannya, ditegaskan bahwa fenomena perkawinan anak merupakan isu kompleks yang tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik dan mental anak, tetapi juga berpotensi memutus akses pendidikan serta memicu lingkaran kemiskinan baru. Oleh karena itu, penanganannya membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan peran aktif orang tua.

“Pencegahan perkawinan anak tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Peran sekolah dan komite sangat vital sebagai garda terdepan dalam mendeteksi, mendampingi, serta memberikan edukasi yang tepat kepada peserta didik dan para orang tua,” ujar perwakilan pimpinan Dinsos P3AP2KB Kota Malang.

Peran Strategis Komite dan Guru BK

Kehadiran perwakilan Komite dan Tim BK MTsN 1 Kota Malang menjadi bentuk komitmen nyata madrasah dalam menyelaraskan program bimbingan murid dengan kebijakan pemerintah daerah. Melalui kegiatan ini, pihak sekolah berencana memperkuat program edukasi karakter, konseling remaja, serta sosialisasi berkala kepada orang tua wali murid.

Komitmen Matsanewa untuk Generasi Emas

Perwakilan BK MTsN 1 Kota Malang menyampaikan bahwa hasil dari kegiatan advokasi ini akan ditindaklanjuti secara konkret di lingkungan madrasah.

“Kami bertekad untuk terus menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah anak, dan edukatif. Edukasi mengenai pentingnya menuntaskan pendidikan, kesiapan masa depan, serta penguatan mental remaja akan terus kami kembangkan, baik melalui bimbingan kelompok maupun forum komunikasi dengan para orang tua,” ungkapnya.

Dengan berawalnya langkah sinergis ini, diharapkan angka perkawinan anak di Kota Malang dapat ditekan secara signifikan, sekaligus melahirkan generasi muda yang sehat, berpendidikan tinggi, dan siap menyongsong masa depan secara optimal. (Humas Matsanewa)