MALANG – Aula MTsN 1 Kota Malang menjadi saksi momentum penting refleksi pendidikan pada Jumat, 12 Juni 2026. Madrasah ini menggelar rapat evaluasi hasil pembelajaran semester genap Tahun Ajaran 2025/2026 untuk kelas 7 dan 8, sebuah agenda yang tidak sekadar melihat angka pencapaian, tetapi mendalami makna mendidik dengan hati.
Suasana khidmat terasa saat Kepala MTsN 1 Kota Malang, Dra. Erni Qomaria Rida, M.Pd., menyampaikan sambutannya. Dengan penuh ketulusan, beliau mengingatkan para pendidik tentang esensi dari sebuah pengabdian. Beliau menegaskan bahwa sebagai guru, kewajiban utama adalah menanamkan keikhlasan yang kokoh dalam mendidik anak-anak, termasuk saat berhadapan dengan murid yang belum memiliki kesadaran untuk belajar dengan baik. Bagi beliau, keteguhan guru dalam membimbing tanpa pamrih adalah lentera yang akan tetap menuntun anak-anak tersebut menemukan jalannya.
Pesan menyentuh tersebut diperkuat oleh arahan strategis dari Pengawas Madrasah Kantor Kementerian
Agama Kota Malang, Chusnul Chotimah, M.Ag, beliau menekankan pentingnya bagi seluruh guru untuk memahami Kurikulum Merdeka secara utuh, terutama prinsip dasar bahwa setiap anak diciptakan dengan kemampuan dan keunikan yang berbeda-beda.
Beliau mengingatkan jika ada murid yang belum mencapai ketuntasan belajar, penanganannya tidak boleh dilakukan secara sepihak, melainkan harus dicarikan solusi bersama-sama dengan orang tua. Hal ini dikarenakan guru sejatinya hadir untuk membantu dan mendampingi orang tua, yang memegang peran paling utama dalam proses keberhasilan anak-anak mereka.
Setelah arahan mendalam tersebut, agenda memasuki sesi teknis yang krusial, yaitu penyampaian laporan langsung dari masing-masing wali kelas mengenai peta ketuntasan belajar murid di kelas 7 dan 8. Melalui pemaparan capaian ini, para guru dapat melihat secara detail perkembangan akademis maupun dinamika perkembangan karakter setiap anak selama satu semester terakhir. Laporan kumulatif dari para wali kelas ini menjadi dasar pijakan yang konkret bagi madrasah untuk merumuskan langkah pendampingan yang lebih personal, humanis, dan tepat sasaran pada tahun ajaran berikutnya, sekaligus memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal dalam proses belajarnya.(Humas Matsanewa)
