Malang, 24 Juni 2025 – Suasana penuh haru, bangga, dan semangat membuncah di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang pada Selasa (24/6). Tiga guru inspiratif dari MTsN 1 Kota Malang: Hastuti Indasari, M.Pd.I, Larasati Romadhona, S.Psi, dan Devianty Intan Perwitasari, S.Pd., resmi mengikuti peluncuran buku antologi yang memuat karya tulisan mereka berjudul “Takdir Pena dan Kapur”, dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Jawa Pos Radar Malang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang dan dihadiri Wali Kota Malang, Dr.Ir. Wahyu Hidayat, MM.

Buku ini bukan sekadar kumpulan kisah. Ia adalah refleksi mendalam tentang dedikasi, air mata, dan semangat tanpa lelah para pendidik dalam membentuk masa depan anak bangsa, khususnya di Kota Malang. Proses penulisan buku ini diawali dari keikutsertaan ketiganya dalam Diklat Jurnalistik Guru SMP/MTs se-Kota Malang, yang diikuti oleh 40 guru dari sekolah negeri dan swasta. Setelah menempuh proses menulis dan editing selama tiga bulan, didampingi oleh tim PT. Cita Intrans Selaras melalui Inara Publisher, buku ini akhirnya resmi diterbitkan pada Jumat, 30 Mei 2025, dan diluncurkan hari ini.

“Takdir Pena dan Kapur” adalah bukti nyata bahwa guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pencerita kehidupan. Lewat tulisan, mereka mengabadikan perjuangan, merajut harapan, dan menyalakan semangat pembaruan dalam pendidikan. Guru di Era Madrasah Digital: Transformasi Membangun Generasi Emas adalah judul karya dari Devianty Intan yang merupakan Guru Informatika, Meneladani Keberanian dan Keteguhan Abu Bakar as-Sidiq adalah judul karya Hastuti Indasari yang merupakan guru SKI dan Berbagi Kisah Menjadi Guru Konseling adalah karya Guru BK , Larasati Romadhona. Ketiga karya guru MTsN ini menjadi 3 dari 19 karya tulis yang ada di buku antologi ini.

Peluncuran ini diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh pendidik di Malang dan Indonesia, bahwa setiap guru memiliki kisah luar biasa yang layak dibagikan—karena sejatinya, pendidikan tidak hanya dibangun di ruang kelas, tapi juga melalui hati yang tulus dan pena yang jujur. ( Humas Matsanewa)