MTsN 1 Kota Malang kembali membawa prestasi di panggung literasi nasional. Aliyyah Shafana Mahirah, murid MTsN 1 Kota Malang, sukses mengukir prestasi gemilang dengan menembus babak finalis dalam ajang bergengsi Anugerah Literasi Orbit 2026. Kompetisi tingkat nasional ini diselenggarakan oleh Orbit bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI.

Keberhasilan Aliyyah melangkah hingga babak final menjadi momen manis yang disambutnya dengan rasa haru dan syukur mendalam. Ia mengaku kaget sekaligus bangga lantaran gagasannya mampu menarik perhatian dewan juri di tingkat nasional.

“Alhamdulillah senang, bersyukur, dan kaget karena karya saya bisa mendapatkan penghargaan,” ungkap Aliyyah penuh rasa syukur saat ditemui pada hari Selasa, 29 September 2026.

Pencapaian luar biasa ini tak lepas dari kejelian Aliyyah dalam mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan remaja. Di tengah maraknya budaya populer, ia secara kritis mengamati kegandrungan teman-teman sebayanya terhadap musik Korea (K-Pop). Alih-alih menolaknya, Aliyyah mengolah fenomena tersebut menjadi tulisan yang edukatif dan bijak.

“Saya melihat di lingkungan saya sebagian besar remaja saat ini menyukai K-Pop. Tetapi jika kita menyukai sesuatu harus dipilih mana yang baik dan mana yang buruk agar kita tidak terpengaruh oleh hal-hal yang negatif,” terangnya.

Di balik kematangan gagasan dan keberhasilan Aliyyah menembus ajang nasional ini, terdapat peran besar dari ekosistem pendukung, khususnya pendampingan intensif dari sang pembina di madrasah. Di bawah bimbingan Yoga Prasetya, S.Pd., M.Pd., Gr. selaku pembimbing Ekstrakurikuler Penulisan Kreatif (EPIK) MTsN 1 Kota Malang, bakat dan minat Aliyyah dalam merangkai gagasan diasah secara konsisten.

Bimbingan, masukan teknis, serta dorongan moral dari sang pembina menjadi pilar utama yang memperkuat rasa percaya diri Aliyyah dalam mengekspresikan pemikirannya hingga siap bersaing di tingkat nasional. Selain peran pembina, Aliyyah juga menegaskan betapa berharganya dukungan penuh dari kedua orang tua serta inspirasi dari kawan-kawan sebayanya.

“Dukungan di dalam keluarga yaitu dari Ayah dan Bunda saya, dan jika di MTsN 1 Kota Malang yaitu Pak Yoga sebagai pembimbing EPIK, serta teman-teman saya yang sangat menginspirasi,” jelasnya menceritakan sosok-sosok penting di balik proses kreatifnya.

Sebagai menutup kisahnya, Aliyyah membagikan pesan bernas bagi seluruh generasi muda yang tengah berjuang mengembangkan potensi diri. Baginya, proses belajar dan keberanian untuk mencoba jauh lebih berharga daripada sekadar hasil akhir.

“Jangan berhenti untuk berkarya karena kalah dan menang sudah biasa. Jika menang kita harus bersyukur dan jika kalah menjadi pelajaran untuk lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya. Yang terpenting kita harus selalu mencoba dan tidak boleh menyerah,” tegasnya.

Sinergi apik antara keberanian Aliyyah dalam menyuarakan gagasan dan tangan dingin pembina di MTsN 1 Kota Malang menjadi bukti nyata bahwa pendampingan yang tepat mampu mengantarkan karya pelajar madrasah bersinar di kancah nasional. (Humas Matsanewa)