Home » Guru » Karya Guru »

Berapa banyak orang berburu harta, tahta, dan kehormatan. Berbagai cara dilakukan untuk meraih itu. Bahkan, cara-cara yang kurang terhormat pun bisa dilakukan.

Saat harta, tahta, ataupun kehormatan telah diraih; mereka merasa puas dan bahagia. Namun, itu semua adalah contoh “kebahagiaan yang membatalkan amal kebaikan”. Bahagia sesaat yang tidak menuai pahala dan berkah Allah SWT.

Beberapa orang juga terpaksa melakukan amal kebaikan. Amal kebaikan yang dilakukan karena keterpaksaan tanpa ada unsur keikhlasan. Misal, seorang pegawai yang terpaksa harus datang ke kantor pagi-pagi karena aturan yang mengekang. Pegawai tersebut memang melakukan amal kebaikan, tetapi tidak merasa bahagia. Itulah contoh “amal kebaikan yang menghapuskan kebahagiaan”.

Untuk itu, dibutuhkan keselarasan stimulasi hormon kebahagiaan tubuh agar kita bisa melakukan amal kebaikan. Amal kebaikan yang menuai ridho dan pahala dari Allah SWT.  Amal kebaikan yang berimplikasi pada kebahagiaan dan merupakan manifestasi ikhlas seorang hamba dalam beramal shalih.

 

Pertama, Hormon Dopamin

Hormon dopamin adalah hormon kebahagiaan yang muncul saat seseorang meraih sesuatu sesuai harapan. Sesuatu yang kita harapkan bisa berupa amal kebaikan. Amal kebaikan yang bisa kita wujudkan dengan melakukan ibadah yang diiringi target sempurna dan istiqomah.

Tips efektif dengan membuat “daftar check list” ibadah wajib dan sunnah yang dilakukan dengan menambahkan pula kolom kualitas kesempurnaan dan keistiqomahannya. Setiap hari, setelah selesai melakukan ibadah (sholat subuh) misalnya, langsung memberi check list juga membubuhkan keterangan “sholat berjamaah di masjid.” Begitu seterusnya dengan amal ibadah yang lain, baik yang wajib dan sunnah. Saat semua kolom ter-check list­ dengan lengkap dan istiqomah, ditambah catatan-catatan kesempurnaannya, maka kita akan merasa puas dan bahagia.

Dengan demikian, kita bisa meraih kebahagiaan bersama amal kebaikan. Karena hormon dopamin yang telah terstimulasi secara baik. Melalui aktivitas ibadah yang direncanakan dan direalisasikan dengan sungguh-sungguh telah mencapai target yang diharapkan.

Kedua, Hormon Oksitosin

Hormon Oksitosin adalah hormon kebahagiaan yang muncul karena adanya jalinan kasih sayang antara seseorang dengan orang lain. Dalam hal ini, kita perlu dekat dengan orangtua-guru-saudara-juga teman. Agar merasa bahagia dalam kebersamaan.

Stimulasi munculnya hormon oksitosin bisa berupa  saling memberi perhatian dan kasih sayang. Perhatian berupa sapaan yang lembut, senyum yang indah, juga bersalaman secara hangat. Kasih sayang berupa pemberian hadiah istimewa, sharing, juga rihlah bersama.

Artinya, jalinan silaturrahmi mampu melahirkan kebahagiaan. Kebahagiaan yang menjadikan rezeki terlimpah juga umur yang berkah. Kebahagiaan bersama amal kebaikan dalam menjalin ikatan ukhuwah-persaudaraan-juga persahabatan.

Ketiga, Hormon Endorfin

Hormon endorfin memiliki kemampuan menutupi rasa sakit yang menimpa seseorang sehingga dia merasa tetap bahagia. Kita tetap bisa bahagia dengan menstimulasi hormon ini, meski dalam kondisi yang tertekan sekalipun. Selaras dengan hadist nabi, “Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya.” (HR. Ath-Thabrani).

Dalam menghadapi ujian, kita perlu merahasiakan keluhan dan musibah itu. Karena hanya Allah tempat kita mengadu dan berkeluh-kesah. Dan  hanya Allah tempat bergantung dan meminta pertolongan.

Tindakan survive ini ternyata menjadikan kita bermental tangguh, berhati tabah dan  sabar, kerja keras dalam ikhtiar, dan berjiwa tawakal. Menjadikan kita merasa puas bila sudah melewati segala ujian tersebut. Kepuasan yang melahirkan kebahagiaan yang sesungguhnya.

 

Keempat, Hormon Serotonin

Hormon serotonin dominan mempengaruhi mood seseorang menjadi pribadi yang ramah, ceria, dan menyenangkan. Kita perlu memanfaatkan hormon ini sebaik-baiknya. Dalam rangka mendapatkan pengakuan secara sosial.

Untuk itu, kita perlu memiliki kelompok kajian-kelompok pengembangan keilmuan-kelompok hobi-dan lain-lain. Di dalam kelompok-kelompok ini kita bisa menjalin silaturahmi secara kokoh. Saling mengingatkan dalam kesabaran. Saling berpacu dalam kebaikan.

Maka, kita akan menjadi orang yang mampu meraih kebahagiaan seutuhnya. Kebahagiaan bersama amal kebaikan. Sebaliknya, amal kebaikan yang melahirkan kebahagiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*